..beberapa tahun silam, ketika hidup dalam dunia kesiswaan (sakula maksudnya)..beberapa potongan rambut, pernah aq lakukan,ketika tk n sd, potongan rambut khas orang tua, maklum, orang tua kan harus dihormati, lagian bpk qu cukup handal memotong rambut anaknya, itu menurut beliau, tp menurut anaknya?????..mm.mm..lumayan..hhi..(meuerun denk..)
.memasuki skulah menengah pertama, untuk eksis dalam dunia baru, masih dalam potongan culun, saayana,tetep rapih, tanpa belah tengah or belah sisi khas jaman waktu itu…yg penting nyaman sajah…
.lalu ketika memasuki sekulah pencarian jati diri, disini lah eksistensi diri mulai ditonjolkan, dengan jambul didepan, menyerupai tokoh tintin, PD (percaya diri) aza … toch spa peduli, yg pasti, hidup waktu itu tanpa memikirkan penampilan..
.memasuki dunia penuh kekerasan, rupanya jati diri mulai sedikit tampak, dengan nurani kota asal sebagai barometer fashion, tak ditampik lagi, gaya rambut harus sesuai jiwa yg sebenarnya, dan jiwa pendongkrak pun mulai mengoyak, dgn rambut moohak, meski pada waktu itu, gaya rambut tersebut banyak di analogiakn negatif bagi sebagaian masyarakat, tp menurut diri sendiri selama hanya sekedar style, knp tidak, toch itu semua tidak merugikan kalian, dengan rambut sisi tipis, dan rambut belakang terurai tak beraturan, diselipi topi hitam, tampak menjadi diri seseungguhnya,…PUNK itu jiwa, bukan gaya..hha…ditemani pakaian yg tdk pernah rapi, karna tidak pernah di setrika,..yg penting bersih, selalu dicuci, dan pakaian yg digunakan pun hanya dipakai sekali sehari, tp untuk topi 3 bulan sekali baru dicuci…hhua..hha..